Share Your Hobby!

Tampilkan postingan dengan label Karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karyaku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2014

Cerobong Kecil

16.29 Posted by SakhaN , No comments
Cerobong-cerobong kecil
Terapit rapi
Dalam sebuah tarikan nafas
Akankah ia berhenti
Hingga paru-parunya terbakar
            Asap-asap kelabu
            Mengepul terbawa angin
            Akankah ia terhenti
            Hingga langit berlubang
Lembar-lembar terbakar
Untuk apakah
Hingga licin bibir menghisapnya
Akankah ia terhenti
            Ini belum terhenti
            Tapi akankah berhenti
            Hingga lidah ini terasa pahit

            Sangat

Untuk Pemuda Indonesia

16.04 Posted by SakhaN , , No comments
Masihkah ia
Adakah dalam bara jiwa mudamu
Bintang-bintang dari leluhur kita?

Percayakah kau padaNya
Kuasa tiada mendua
Pedulikah pada mereka
Yang menjerit sepenuh jiwa dan raga
Kukuhkah dirimu
Dan seluruh mereka yang berjiwa sama
                Mengertikah pada diri kalian
                Dengan sepakat satu kata

Dan sebuah keadilan yang begitu mulia

Minggu, 14 September 2014

Daun yang Beterbangan

17.07 Posted by SakhaN , No comments
Daun muda berombak-ombak
Melambai-lambai mengejar semak
Murung
Kapan aku dapat terbang?

Angin muda menebar salam
Ikutlah aku
Kan ku antar kau mengelilingi dunia
Ikutlah aku
Kan ku antar kau melalui hari tua

Daun-daun yang mulai keriput
Menandakan hari semakin senja
Angin....
Angin....
Kemarilah.....
Terbangkan aku ke angkasa
Biarkan aku mengelilingi dunia

Daun yang dulu hijau
muda
Kini telah berubah
coklat tua
Layu....
Gugur....

Rabu, 20 Februari 2013

Cinta 2 Keluarga

21.23 Posted by SakhaN , No comments


Aku tak percaya lagi dengan mataku. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Bagaimana mungkin Mita yang selama ini kupercaya dapat mengkhianatiku sedemikian rupa. Agasa dengan cepat mengambil pedang yang masih tersampir di pinggangnya.
“Aku lebih percaya pada janji Mita dari pada apa yang telah aku lihat ini. Jika dia benar, berarti mata ini berbohong.” Tanpa pikir panjang, ditusukkannya kedua pedang yang digenggamnya itu tepat ke kedua matanya.
AKH! Ia terjatuh dari tempatnya. Berguling-guling ke lantai. Mita dan seluruh anggota keluarganya memandang tak percaya.
***
Agasa memandang jenazah yang dibawa masuk kedalam halaman rumahnya. Mereka adalah anggota keluarganya yang mati terbunuh. Kini keluarganya, keluarga besar Hattori, sedang dalam masa krisis perang melawan keluarga besar Kobayashi. Kata orang-orang, persaingan dua keluarga ini tak akan berhenti sebelum dua keluarga ini musnah. Pemikiran yang logis, mengingat beberapa diantara jenazah itu hanya keluarga angkat. Agasa sendiri tak tahu ada berapa banyak keluarga angkat yang akan membela klannya.
Hari ini seorang perempuan datang kerumahnya. Tampaknya bukan orang Jepang. Ia tahu sopan santun, tetapi ada hal lain yang membuatnya tertarik dengan perempuan tersebut.
Hajimemashite, Watashi wa Aruka desu.” Perempuan itu tampaknya menyadari pandangan Agasa. Tak sempat Agasa menjawab, Ayah sudah muncul dihadapan mereka dan membawa perempuan itu masuk ke ruangannya. Lama sekali mereka berbincang hingga Ayah memanggilnya.
“Agasa, kau harus ke Indonesia. Dan kau kesana hanya dengan Aruka. Dia ibumu.”
Agasa terkejut. Ada rasa senang mendapati ibunya masih hidup. Selain itu, ia kini mengetahui tujuan Ayah memaksanya belajar bahasa Indonesia. Aruka. Selama ini Ayah hanya bilang ibunya ada di suatu tempat yang jauh. Sampai-sampai Agasa pikir ibunya telah meninggal. Ia tersenyum menahan air matanya. Dihampirinya Aruka dan dipeluknya. “Ibuuu….”. Tiba-tiba…..BYURRR!

Jumat, 07 Desember 2012

Rabu, 07 November 2012

(Dulu) Kau Sahabatku

21.58 Posted by SakhaN , No comments

Sahabat…

Aku tahu

Ini hanya salah duga

Tak ingin kusakitimu

Membuat jurang antara kita

Membangun dinding di muka kita

Yang kumau…

Dengarlah aku

Ingatlah aku

Ukirlah aku di hatimu

Menjadi sahabatmu

Temanmu

Saudaramu

Menutup luka hati kita

Menjahit semua…

Yang memisahkan kita

Agar jalan kembali lurus

Sungai kembali mengalir

Angin kembali berhembus

Dengarlah sahabatku

Semoga kau tahu

Rabu, 31 Oktober 2012

Seonggok Taufan

13.27 Posted by SakhaN , No comments

Bagian 4
Pak Karman berusaha mencerna semua ucapan Bi Tutik. Dahinya tampak semakin berkerut. Dipandanginya wajah cemas istrinya.
“Lalu?”
“Cari dia! Jaga dia! Aku khawatir Pak Hartanto akan melakukan sesuatu yang buruk. Dia melihat tanda lahir anak itu.”
Pak Karman diam. Kemudian berkata, “Bagaimana aku tahu. Aku tidak disana saat pemukulan. Sedangkan tanda lahir, aku tidak mengenalnya.”
Mereka berdua sama-sama terdiam. Kemudian Pak Karman melanjutkan, “Apa mungkin anak itu dirawat di rumah sakit itu. Bukankah jika dirawat di sana ia akan lebih terselamatkan setelah kau pukul?” ada nada aneh saat Pak Karman mengatakan ‘kau pukul’ barusan. Bi Tutik menyetujui pendapat suaminya. Ia mengangguk-angguk kecil.
“Baiklah, aku akan segera ke sana untuk memastikan.” Pak Karman berdiri. Waktu kunjungnya sudah habis. Seorang polisi menghampiri mereka, kemudian membawa Bi Tutik kembali ke selnya. Pak Karman beranjak dari tempatnya. Dalam pikirannya kini bertambah satu beban masalah baru.
***

Kamis, 25 Oktober 2012

Seonggok Taufan

13.30 Posted by SakhaN , No comments

BAB I
BAGIAN 3
Bi Tutik benar-benar merasa berdosa. Tubuhnya tiba-tiba lemas. Ia terduduk di lantai. Membiarkan dua orang satpan rumah sakit membawanya pergi. Beberapa pengunjung pasien masih memandangi kepergian Bi Tutik dan dua orang satpam itu. Sementara sebagian kembali melakukan aktifitasnya.
Bi Tutik dibawa ke dalam sebuah ruangan kecil. Salah seorang satpam menunggu di luar ruangan, sementara satpam yang satunya menghubungi polisi. Dalam diam, Bi Tutik memandangi tangannya. Kilatan ingatan empat belas tahun yang lalu terulang.
Hujan yang deras diiringi petir menutup langit kota. Suasana sepi tiba-tiba terpecahkan oleh suara teriakan Bu Lestari. Bi Tutik berlari menghampiri suara majikannya. Wajah Bu Lestari dipenuhi peluh. Bi Tutik yang tanggap dengan kondisi itu segera menelepon salah satu rumah bersalin yang ada di kota.

Rabu, 17 Oktober 2012

Seonggok Taufan

13.49 Posted by SakhaN , No comments
BAB I

BAGIAN 2
Bi Tutik menangis tertahan dalam pelukan suaminya. Wajahnya sembab. Suaminya berusaha menghibur istrinya. Meski Jona bukan keluarga mereka, tetapi sudah mereka anggap sebagai anak kandung sendiri. Meski mereka hanya pembantu, Jona sangat menghormatinya.
Di dalam kamar rumah sakit, Jona masih tidak sadarkan diri. Seorang dokter dibantu dengan beberapa perawat memeriksa kondisi Jona. Darah yang keluar dari kepalanya telah dibersihkan. Bi Tutik beberapa kali melihat pintu kamar yang masih tetutup. Pak Karman ikut memandang cemas pintu kamar tempat Jona dirawat.

Rabu, 10 Oktober 2012

Seonggok Taufan

13.03 Posted by SakhaN , No comments

BAB I
Bagian 1

BRUKK! Jona membanting tas sekolahnya ke lantai kamar. Dibenamkannya seluruh mukanya ke bantal yang ada di kamarnya. Sayup-sayup masih terdengar suara orang yang saling bentak di luar kamarnya. Jona sangat benci mereka berdua. Ayah dan Ibunya.
Jona bangkit dari tempat tidurnya. Langkahnya begitu pelan menuju ke kamar mandi kamarnya. Matanya tampak kosong. Seperti tidak bernyawa. Dikuncinya pintu kamar mandi. Tangannya membuka almari gantung di atas wastafel. Meraba-raba sebentar, kemudian tangannya sudah membawa sebuah botol berwarna biru.
***

Sabtu, 06 Oktober 2012

Budak Preman

22.17 Posted by SakhaN , No comments
Tujuh Pagi.....
Aku tak dapat lapar
Tak punya waktu
Tak sempat

Duabelas siang....
Aku tak dapat lelah
Tapi kudapat peluh
Mandilah siang hari

Aku dijemput
Dijaga
Terus diawasi
Dari jauh
Serasa seorang putri

Mereka menodongku
Mendorongku
Meminta uangku
Hasil ngamen

NELLA DAN RENE

20.12 Posted by SakhaN , No comments

Mendung menggantung di langit-langit kota. Tak lama, hujan turun. Nella menggerutu. Ia baru saja melangkah keluar dari sebuah SMA. Mukanya mengerut, menandakan sebuah emosi yang terpendam. Ia menghentikan bus dan segera masuk. Ia duduk terdiam di kursi depan.
Diabaikan keramaian terminal, yang ada dalam pikiran Nella saat ini berlari menghindari hujan agar sampai di halte terdekat dan berteduh disana. Beberapa bus yang melewatinya tak dihiraukan. Menunggu hujan reda dia kembali melamun, tapi hujan justru turun semakin deras.
Seakan Tuhan mengirimkan pertolongannya, Nella melihat beberapa anak kecil bermantel berlarian membawa payung besar. Nella tak mengerti apa yang dilakukan anak-anak itu, hingga seorang anak perempuan berambut panjang berjalan ke arahnya.
“Mau nyebrang, Kak?” anak itu bertanya pada pria di sebelah Nella.
Pria itu tidak menjawab.
“Bagaimana, Kak? Seribu saja, Kak.” Anak itu tidak menyerah.
Nella mendekatinya.
“Dik, boleh sewa payungnya? Daripada kecapaian merayu manusia tak bertelinga.” Pria itu tampak tersinggung. Mereka berdua segera meninggalkan pria itu.
@@@

WE ARE NOT FRIEND AGAIN

20.09 Posted by SakhaN , No comments

“Anna……cepat keburu siang!” teriak ibunya dari luar sambil menyiapkan sarapan.
“Iya bu”, jawabku dari dalam kamar. Aku harus semangat untuk menyambut awal pekan ini. Beberapa menit kemudian aku keluar kamar.
Ups, sudah pukul 06.00. padahal aku belum sarapan. Cepat aku menuju meja makan dan mengambil sarapan yang telah disediakan ibu. Kulahap sarapanku secepat yang aku bisa. Kulirik jam tanganku, pukul 06.10. segera kuhabiskan segelas susu putih kesukaanku. Aku berlari kearah jalan. Hup! Tepat pukul 06.15, aku duduk di bangku halte.
Tak berapa lama sebuah bus berhenti. Kulangkahkan kakiku ke dalam bus. Kucari-cari bangku kosong. Dari bangku belakang kulihat ada yang melambaikan tangan ke arahku.
“Anna!”
Ternyata Tyas, sahabat baikku. Dia menyuruhku duduk di bangku kosong di sebelahnya. Aku melangkah ke arahnya.
“Hai! Pagi-pagi kok keringetan. Belum mandi ya?” canda Tyas menyambutku.
“Nggak, tadi bangunku agak kesiangan.” Jawabku tersenyum.
Tyas membalasku dengan senyum. Dia memang suka bercanda. Kami melanjutkan perbincangan kami hingga tak terasa bus berhenti di depan SMA DUTA NEGERI.
@@@

Jumat, 07 September 2012

Baling-baling Bambu

17.39 Posted by SakhaN , No comments

Dinding kamar itu berlapis anyaman bambu. Di satu sisinya terdapat sebuah ranjang dari kayu jati. Ranjang itu menghadap ke arah pintu kamar. Di kedua sisi dinding lainnya terdapat rak buku besar. Berbagai macam buku dari berbagai negara tersusun rapi di atas rak itu, tampak sangat terawat. Di atas ranjang, Kakek Hadi berbaring. Menghabiskan hari-harinya hanya dengan berbaring, menunggu ajalnya tiba. Seakan ia hidup di dalam gua.