Share Your Hobby!

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Februari 2013

Cinta 2 Keluarga

21.23 Posted by SakhaN , No comments


Aku tak percaya lagi dengan mataku. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Bagaimana mungkin Mita yang selama ini kupercaya dapat mengkhianatiku sedemikian rupa. Agasa dengan cepat mengambil pedang yang masih tersampir di pinggangnya.
“Aku lebih percaya pada janji Mita dari pada apa yang telah aku lihat ini. Jika dia benar, berarti mata ini berbohong.” Tanpa pikir panjang, ditusukkannya kedua pedang yang digenggamnya itu tepat ke kedua matanya.
AKH! Ia terjatuh dari tempatnya. Berguling-guling ke lantai. Mita dan seluruh anggota keluarganya memandang tak percaya.
***
Agasa memandang jenazah yang dibawa masuk kedalam halaman rumahnya. Mereka adalah anggota keluarganya yang mati terbunuh. Kini keluarganya, keluarga besar Hattori, sedang dalam masa krisis perang melawan keluarga besar Kobayashi. Kata orang-orang, persaingan dua keluarga ini tak akan berhenti sebelum dua keluarga ini musnah. Pemikiran yang logis, mengingat beberapa diantara jenazah itu hanya keluarga angkat. Agasa sendiri tak tahu ada berapa banyak keluarga angkat yang akan membela klannya.
Hari ini seorang perempuan datang kerumahnya. Tampaknya bukan orang Jepang. Ia tahu sopan santun, tetapi ada hal lain yang membuatnya tertarik dengan perempuan tersebut.
Hajimemashite, Watashi wa Aruka desu.” Perempuan itu tampaknya menyadari pandangan Agasa. Tak sempat Agasa menjawab, Ayah sudah muncul dihadapan mereka dan membawa perempuan itu masuk ke ruangannya. Lama sekali mereka berbincang hingga Ayah memanggilnya.
“Agasa, kau harus ke Indonesia. Dan kau kesana hanya dengan Aruka. Dia ibumu.”
Agasa terkejut. Ada rasa senang mendapati ibunya masih hidup. Selain itu, ia kini mengetahui tujuan Ayah memaksanya belajar bahasa Indonesia. Aruka. Selama ini Ayah hanya bilang ibunya ada di suatu tempat yang jauh. Sampai-sampai Agasa pikir ibunya telah meninggal. Ia tersenyum menahan air matanya. Dihampirinya Aruka dan dipeluknya. “Ibuuu….”. Tiba-tiba…..BYURRR!

Jumat, 23 November 2012

CINTA BERSEMI

12.34 Posted by SakhaN , No comments

Suara ringtone alarm dari hp berbunyi  sangat keras
Ya ampun aku kesiangan lagi nih, Gladys bergegas ke kamar mandi.
Gimana nih udah jam 6.45, bisa kena semprot pak satpam lagi. Dengan cepatnya iya meraih tas yang berisi buku yang gak karuan itu, lalu bergegas berlari turun tangga, dan keluar rumah.
Didepan gang jalan Gladys menunggu angkot yang akan menghantarkannya ke depan gerbang sekolahannya. Tapi sampai 10 menit kemudian, angkot tak kunjung datang, karena paniknya Gladys memutuskan berlari menuju sekolah yang bisa dibilang cukup jauh.Dengan kencangnya Gladys berlari sampai tak menghiraukan ada seorang cowok yang mengendarai motor hampir menabraknya. Bukan hamper lagi, tapi udah malah.
“Cewek sialan, mata loe ditaruk dimana, disepatu dikalee yaa,” kata cowok itu mengomel sebel.
“Apaaaaaaaaaaa ?? loe bilang gua cewek sialan, iyuuuh….eeh loe piker loe sapa, seenaknya manggil gue gitu,” kata Gladys menyahuti.
Meskipun diluarnya Gladys sebel sama cowok itu, tapi sebetulnya beda dengan hatinya. Bisa dibilang Gladys itu terpesona dengan cowok yang mengatainya tadi.
“Heellooooo, kenapa? Kamu takjub ya sama kegantengan gue? ya kan? ngaku aja dech, semua juga pada bilang gitu kog,” kata cowok itu sok PD.
“Idiiiich, GAAAAAAAAANTEEEEEENG ????? gausah sok kepedean,” cetus Gladys.
Yaaampun gua telat nich, Gladys langsung lari pake langkah seribu, habis cepet banget larinya.
Sementara cowok itu masih ditempatnya dengan mata melongo dan polosnya, lalu berkata, ”dasar cewek aneh.”

Rabu, 10 Oktober 2012

Dia Berbeda

13.15 Posted by SakhaN , No comments

Setangkai mawar putih tergeletak di depan pintu rumah? Tidak, tepatnya di depan pintu gubukku. Heran aku mengapa semua laki-laki melakukan itu? Segala warna mawar, segala macam bunga telah mampir di depan pintu gubukku. Aku lelah menerimanya. Berapa kali harus kukatakan pada laki-laki sialan itu bahwa aku tidak suka bunga, coklat, pukaran pink, dan boneka. Cowok-cowok itu boleh saja mengira semua gadis suka diperlakukan seperti itu, tapi yang pasti aku bukan salah satu dari gadis-gadis itu.
Aku masuk lagi ke dalam rumah dan membiarkan mawar-mawar itu tergeletak di depan pintu. Biarlah mawar itu layu di tempat. Aku mulai memanaskan air untuk membuat the dan menggoreng pisang goreng. Kulihat ibuku masih tidur nyenyak di kamar yang kami gunakan berdua. Ibuku wanita yang cantik dan hebat. Kalau bukan Janus, turis Australia bajingan yang sialnya adalah ayahku, mungkin ibu saat ini masih berdiri di panggung teater yang megah serta menerima tepukan antusias penonton dan tentu saja ia tidak akan pernah mengenal gubuk kumuh ini. Tentu aku juga tak perlu lahir, apalagi memendam sakit hati yang mendalam terhadap ayah.

Sabtu, 06 Oktober 2012

NELLA DAN RENE

20.12 Posted by SakhaN , No comments

Mendung menggantung di langit-langit kota. Tak lama, hujan turun. Nella menggerutu. Ia baru saja melangkah keluar dari sebuah SMA. Mukanya mengerut, menandakan sebuah emosi yang terpendam. Ia menghentikan bus dan segera masuk. Ia duduk terdiam di kursi depan.
Diabaikan keramaian terminal, yang ada dalam pikiran Nella saat ini berlari menghindari hujan agar sampai di halte terdekat dan berteduh disana. Beberapa bus yang melewatinya tak dihiraukan. Menunggu hujan reda dia kembali melamun, tapi hujan justru turun semakin deras.
Seakan Tuhan mengirimkan pertolongannya, Nella melihat beberapa anak kecil bermantel berlarian membawa payung besar. Nella tak mengerti apa yang dilakukan anak-anak itu, hingga seorang anak perempuan berambut panjang berjalan ke arahnya.
“Mau nyebrang, Kak?” anak itu bertanya pada pria di sebelah Nella.
Pria itu tidak menjawab.
“Bagaimana, Kak? Seribu saja, Kak.” Anak itu tidak menyerah.
Nella mendekatinya.
“Dik, boleh sewa payungnya? Daripada kecapaian merayu manusia tak bertelinga.” Pria itu tampak tersinggung. Mereka berdua segera meninggalkan pria itu.
@@@

WE ARE NOT FRIEND AGAIN

20.09 Posted by SakhaN , No comments

“Anna……cepat keburu siang!” teriak ibunya dari luar sambil menyiapkan sarapan.
“Iya bu”, jawabku dari dalam kamar. Aku harus semangat untuk menyambut awal pekan ini. Beberapa menit kemudian aku keluar kamar.
Ups, sudah pukul 06.00. padahal aku belum sarapan. Cepat aku menuju meja makan dan mengambil sarapan yang telah disediakan ibu. Kulahap sarapanku secepat yang aku bisa. Kulirik jam tanganku, pukul 06.10. segera kuhabiskan segelas susu putih kesukaanku. Aku berlari kearah jalan. Hup! Tepat pukul 06.15, aku duduk di bangku halte.
Tak berapa lama sebuah bus berhenti. Kulangkahkan kakiku ke dalam bus. Kucari-cari bangku kosong. Dari bangku belakang kulihat ada yang melambaikan tangan ke arahku.
“Anna!”
Ternyata Tyas, sahabat baikku. Dia menyuruhku duduk di bangku kosong di sebelahnya. Aku melangkah ke arahnya.
“Hai! Pagi-pagi kok keringetan. Belum mandi ya?” canda Tyas menyambutku.
“Nggak, tadi bangunku agak kesiangan.” Jawabku tersenyum.
Tyas membalasku dengan senyum. Dia memang suka bercanda. Kami melanjutkan perbincangan kami hingga tak terasa bus berhenti di depan SMA DUTA NEGERI.
@@@

Jumat, 07 September 2012

Baling-baling Bambu

17.39 Posted by SakhaN , No comments

Dinding kamar itu berlapis anyaman bambu. Di satu sisinya terdapat sebuah ranjang dari kayu jati. Ranjang itu menghadap ke arah pintu kamar. Di kedua sisi dinding lainnya terdapat rak buku besar. Berbagai macam buku dari berbagai negara tersusun rapi di atas rak itu, tampak sangat terawat. Di atas ranjang, Kakek Hadi berbaring. Menghabiskan hari-harinya hanya dengan berbaring, menunggu ajalnya tiba. Seakan ia hidup di dalam gua.